PERJUANGAN POLRI DI TLOGOWARU-MALANG 1945-1947 YANG TERLUPAKAN

 

Screen Shot 2016-03-01 at 6.15.08 PM

Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Ada lima tahap yaitu pemilihan topik, heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi menghasilkan Pengendalian Mobile Brigade Besar sebagai angkatan bersenjata bentukan kepolisian ditunjukkan melalui perjuangan mereka mempertahankan dan merebut kembali Kota Malang dari Sekutu. Lain halnya dengan kepolisian masa sekarang yang bertindak atau berperilaku tidak semestinya diluar tugas utama polisi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Atas dasar permasalahan tersebut menjadi latar belakang penelitian ini yang mengingatkan kembali masa-masa perjuangan Kepolisian Republik Indonesia khususnya di Kota Malang.

Kata Kunci: Kota Malang, Perjuangan Polri.

Abstract: The purpose of this study was to describe the events underlying the establishment of the Police Struggle Monument Tlogowaru. The method used in this study is the historical method. There are five stages: topic selection, heuristics, source criticism, interpretation and historiography generate Control Mobile Brigade Major as armed police formations demonstrated through their struggle to defend and reclaim the city of Malang from Allied. As with the present police acting or behaving inappropriately outside the main task of the police as a patron and protector of society. On the basis of these issues into the background of this research recalling the days of the Republic of Indonesia Police struggle especially in the city of Malang.

Keywords: Malang, Police Struggle.

Perjuangan kepolisian RI pada masa kemerdekaan sampai perjuangan pada Agresi Militer Belanda I banyak menimbulkan gejolak di masyarakat. Hal ini membuat rakyat Indonesia tidak berdiam diri, dengan dibuktikannya perlawanan terhadap Belanda oleh pihak-pihak Angkatan bersenjata bentukan pemerintah maupun inisiatif rakyat akibat tekanan yang ditimbulkan Sekutu. Pada masa-masa perjuangan Indonesia pada tahun 1945-1949 di Kota Malang telah banyak

mengerahkan angkatan bersenjata seperti dari Kepolisian Republik Indonesia yang di kendalikan oleh Mobile Brigade Besar atau sekarang yang disingkat Brimobe. Pengendalian Mobile Brigade Besar sebagai angkatan bersenjata bentukan kepolisian ditunjukkan melalui perjuangan mereka mempertahankan dan merebut kembali Kota Malang dari Sekutu.

Berkaitan dengan hal tersebut telah jelas bahwa fungsi polisi dalam masyarakat sebagai pranata atau institusi yang ada dalam masyarakat Indonesia dan peranannya untuk menciptakan dan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Namun, integritas polisi sekarang dibandingkan dengan integritas polisi pada masa revolusi fisik memiliki perbedaan. Di sisi lain, polisi pada masa revolusi fisik berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia tanpa mendapat imbalan yang setimpal bahkan rela kehilangan jiwa dan raga, sedangkan kinerja polisi sekarang dengan orientasi yang sama yaitu mengayomi masyarakat tidak sepenuhnya benar-benar dijalankan.

Perjuangan polisi terdahulu dalam melawan penjajah seharusnya menjadi contoh polisi sekarang dalam menjalankan tugas yang semestinya sesuai sumpah mereka saat bersatu di kepolisian .Beberapa kasus yang sekarang yang banyak melibatkan kepolisian ini, penulis berusaha mengangkat kembali perjuangan Polri di Kota Malang sebagai langkah untuk menunjukkan bahwa perjuangan Polri riil sesuai tugas dan kewajiban mereka dalam melindungi dan mengayomi masyarakat dibalik keadaan kepolisian yang sekarang dipandang sebagai aparat kebohongan masyarakat.

Keberadaan dan fungsi polisi dalam masyarakat bukan hanya mencakup kewajiban petugas-petugas polisi tetapi juga hak-hak atas pendapatan yang layak, sehingga para petugas polisi dapat hidup layak sesuai dengan tugas-tugas dan resiko dalam menjalankan tugas (Suparlan, 2004 : 174). Berkaitan dengan hal tersebut diatas telah jelas bahwa fungsi polisi dalam masyarakat sebagai pranata atau institusi yang ada dalam masyarakat Indonesia dan peranannya untuk menciptakan dan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Namun, integritas polisi sekarang dibandingkan dengan integritas polisi pada masa revolusi fisik memiliki perbedaan. Perjuangan polisi terdahulu dalam melawan

penjajah seharusnya menjadi contoh polisi sekarang dalam menjalankan tugas yang semestinya sesuai sumpah mereka saat bersatu di kepolisian.Beberapa kasus yang sekarang yang banyak melibatkan kepolisian ini, penulis berusaha mengangkat kembali perjuangan Polri di Kota Malang sebagai langkah untuk menunjukkan bahwa perjuangan Polri riil sesuai tugas dan kewajiban mereka dalam melindungi dan mengayomi masyarakat dibalik keadaan kepolisian yang sekarang dipandang sebagai aparat kebohongan masyarakat. Berkenaan dengan revolusi, M Zed (1980:20) mengemukakan definisi revolusi yang berarti perubahan secara cepat dan keras pada bentuk ekonomi, politik atau sosial dari suatu negara. Dilihat dari sudut pandang politis revolusi merupakan suatu usaha sadar dan sengaja untuk mengubah suatu tatanan kemasyarakatan dan ketatanegaraan dengan kekerasan. Sekutu dan Belanda maupun konflik yang terjadi antara berbagai golongan. Revolusi Indonesia menurut Crib merupakan suatu momen pembebasan yang memungkinkan rakyat Indonesia menentukan masa depannya sendiri dan bukan suatu politik dengan revolusi secara tidak harfiah anti Belanda melainkan anti imperialis dan anti kolonialisme (Crib,1990:9). Kepolisian mengandung pengertian yang berbeda. Istilah “polisi” adalah sebagai organ atau lembaga pemerintah yang ada dalam Negara, dan istilah “kepolisian” adalah sebagai organ dan sebagai fungsi. Sebagai organ, yakni suatu lembaga pemerintah yang terorganisasi dan terstruktur dalam organisasi Negara, sedangkan sebagai fungsi, yakni tugas dan wewenang serta tanggung jawab lembaga atas kuasa undang-undang untuk menyelenggarakan fungsinya, antara lain pemeliharaan keamanan, dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, pelindung, pengayom dan pelayan kepada masyarakat (Khoidi, 2005: 36). Tumbuh dan berkembangnya Polri memang tidak lepas dari sejarah perjuangan kemerdekaan RI. Sejak proklamasi 17 Agustus 1945, Polri dihadapkan pada tugas-tugas yang unik dan kompleks.

Tujuan penelitian ini sebagai (1)Mendeskripsikan keadaan Kota Malang pada masa kolonialisme hingga kemerdekaan yang merupakan awal keberadaan Belanda di Kota Malang. (2) Mendeskripsikan keadaan Kota Malang pada masa kolonialisme hingga kemerdekaan yang merupakan awal keberadaan Belanda di Kota Malang. (3) Mendeskripsikan peristiwa yang melatarbelakangi berdirinya

Monumen Perjuangan Polri Tlogowaru. (4) Mendeskripsikan perjuangan kepolisian di Kota Malang tahun 1945-1947 sebagai kontribusi pada pendidikan sejarah khususnya sejarah lokal. Atas dasar permasalahan tersebut menjadi latar belakang penelitian ini yang mengingatkan kembali masa-masa perjuangan Kepolisian Republik Indonesia khususnya di Kota Malang. Penelitian lain yang juga dapat diangkat adalah Sejarah Perkembangan Polri di Kota Malang pada Tahun 1949 karena pada masa itu Polri banyak mengalami perubahan karena bersamaan dengan terjadinya perubahan struktur organisasi Polri serta Agresi Militer Belanda II.

METODE
Pemilihan topik ini diambil oleh penulis sebagai bentuk kepedulian

terhadap sejarah Kota Malang, karena penulis memiliki kedekatan emosional karena penulis merupakan penduduk asli Malang.

Sumber Primer yang digunakan oleh penulis berkaitan dengan peristiwa ini. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan sumber primer hasil wawancara yang dilakukan secara mendalam dari informan yang dianggap kompeten yaitu pelaku ataupun saksi hidup serta arsip yang mendukung. Sumber sekunder berupa koran Harian Rak’jat yang terbit pada tahun 1946-1947, Koran Berdjoeang yang terbit tahun 1946-1947, dan Koran Keng Po yang terbit pada tahun 1947 yang berisi tentang situasi Indonesia umumnya dan Kota Malang khususnya.

Kritik ekstern menilai, apakah sumber itu benar-benar sumber yang diperlukan, Apakah sumber itu asli, turunan, atau palsu. Dengan kata lain, kritik ekstern menilai keakuratan sumber. Kritik intern menilai kredibilitas data dalam sumber.

Observasi dilakukan peneliti dalam mengumpulkan data-data sebagai penunjang penelitiannya, menggunakan observasi analisis dokumen yaitu menggunakan beberapa dokumen-dokumen sebagai informasi tambahan dalam menginterpretasi data atau temuan.

Langkah terakhir dari penelitian sejarah (metode sejarah) adalah merangkaikan fakta berikut maknanya secara kronologis atau diakronis dan sistematis, menjadi tulisan sejarah sebagai kisah.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Perkembangan Kepolisian di Kota Malang 1945-1947

Pada tanggal 8 Maret 1942 tentara Jepang memasuki Kota Malang. Salah satu usaha mereka pertama ialah mengambil kembali pemerintahan Kotapraja, pegawai berkebangsaan Indonesia menggantikan kedudukan pegawai Belanda dalam meneruskan pekerjaan dalam pemerintahan. Kotapraja diperintahkan mengadakan pendaftaran untuk Romusha, Heiho, Seinendan, Keibodan, Jibakutai (Tim Penulis, 1954 : 20).

Pada tanggal 5 Oktober 1945 Pemerintah Republik Indonesia mendekritkan pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai wujud peningkatan bentuk serta organisasi dari BKR. Pada tanggal 12 Nopember 1945 atau 2 hari sesudah rakyat Surabaya sama sekali tidak memperhatikan ultimatum Mayor Jenderal Mansergh, kemudian diadakan konferensi pertama dari sepuluh divisi di Jawa (kecuali Surabaya). Daerah Malang termasuk wilayah divisi VIII yang meliputi Malang dan Besuki yang berada di bawah pimpinan Mayor Jenderal Sudjai.

Di luar tentara bentukan Pemerintah Republik Indonesia masih terdapat lasykar pejuang yang mengkoordinir antara lain Divisi Djago, Divisi Hizbullah dan Divisi TRIP Jawa Timur, untuk wilayah Malang terdapat 5000 Batalyon.

Divisi TRIP Jawa Timur diberikan kepercayaan membawa tawanan perang APWI atau para tawanan perang Sekutu yang ditawan oleh tentara Jepang, dari stasiun kereta api di Malang sampai diserah terimakan kepada tentara Sekutu di Tambun, Bekasi. Komandan TRIP Yon 5000 Malang menugaskan seksi SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas) di bawah pimpinan Sudiono Wardoyo (Sagimun, 1989 : 191).

Pada saat-saat sesudah proklamasi terlihat hampir pada semua gedung- gedung penting tertulis semboyan-semboyan revolusi antara lain terlihat di gedung Kantor Kabupaten jalan alun-alun kulon dengan semboyan: ”Freedom to the Glory of any nation” dan “Indonesia for the Indonesians”. Dari semboyan yang dituliskan oleh pemuda-pemuda kita itu menjadi pegangan untuk memberikan peringatan akan pentingnya persatuan bangsa dalam menegakkan pemerintahan dan pembangunan yang berkelanjutan.

Dalam keadaan yang demikian datang rombongan para wakil dari pemerintah pusat di Kota Malang untuk memberikan penjelasan sekitar situasi pada saat itu dan untuk penyusunan KNI (Komite Nasional Indonesia) Daerah. Kemudian terbentuklah KNI Daerah dengan susunan antara lain terdiri dari Mr. Soenarko, Poeger, Imam Soedjai dan lain-lain. Dalam rapat yang dilaksanakan pada tanggal 21 September 1945 terlihat sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa daerah Malang menjadi daerah Republik Indonesia dan berdiri di belakang pemerintah Republik Indonesia.

Dengan persetujuan Dr.Imam sebagai pemimpin rumah sakit militer Malang beserta Dr. Sumarno, dikirim regu-regu Palang Merah pemuda Tionghoa ke Surabaya dengan dua tugas yaitu member pertolongan pada korban perang dan menolong para pengungsi yang pada saat itu diungsikan ke Malang. Di samping itu pemuda Palang Merah membawa makanan yang diawetkan untuk dibagikan kepada pemuda-pemuda yang bertempur di garis depan. Pekerjaan regu-regu dari Malang tersebut mendapatkan penghargaan dari pimpinan Rumah Sakit Pusat Surabaya, karena membantu pasien yang di rawat di RSUP ke garis belakang yang lebih aman yaitu menuju Mojokerto, Pasuruan dan Malang (Tjhan, 1981 : 77).

Dalam pemerintahan kota dengan adanya pembentukan KNI maka di Malang mulai berjalan pemerintahan RI. Demikian juga di dalam daerah Karesidenan Malang berjalan pemerintahan RI. Agresi militer pertama di Jawa Timur terjadi pada tanggal 11 Juli 1947 di barat Surabaya terjadi pertempuran, Belanda menggunakan pelempar granat dan mortir pada pukul 07.40 sampai 09.30. pada hari berikutnya sebelah barat Mojokerto tembaki oleh Belanda pada pagi hari pukul 06.30. Di Ketapang terjadi pada tanggal 14 Juli pada pukul 10.05 terlihat mobil Belanda diiringi oleh pesawat terbang yang telah siap menembaki, sedangkan di Gilimanuk terjadi ada pukul 10.45.

Agresi Militer Belanda tersebut diawali dengan penerobosan terhadap pertahanan TNI di Porong oleh Brigade KNIL dari Divisi A yang berpangkal di Surabaya. Setelah berhasil menerobos pertahanan TNI di Porong, Brigade KNIL tersebut kemudian terus bergerak ke Malang, sedangkan sebagian lagi bergerak ke timur menuju Bangil hingga bertemu Brigade Marine. Pada tanggal 21 Juli 1947,

ketika tentara Belanda mengawali agresinya, di Markas Divisi VII Malang pada pukul 19:00 para perwira staf dan para komandan kesatuan dikumpulkan untuk mendengarkan perintah harian Panglima Divisi. Sunarto selaku komandan TGP (Tentara Genie Pelajar) hadir dalam pertemuan tersebut. Pada keesokan hari diketahui bahwa panglima ketika itu telah meninggalkan Kota Malang. Banyak pihak menyesalkan sikap panglima tersebut. Akhirnya pimpinan TGP memutuskan untuk berinisiatif mengambil alih tanggung jawab membumi hanguskan kota sesuai dengan rencana. Tindakan pertama yang ditempuh adalah meminta datang para petinggi kantor telepon, RRI, Perusahaan Listrik dan Stasiun Malang. Kepada mereka diminta kesediaan menerima pengawasan penghancuran instalasi mereka dan mulai mengungsikan alat perlengkapan vital ke Ngebruk, Sumber Pucung (Moehkardi, 1983 : 73).

Tanggal 28 Juli pasukan musuh bergerak lagi ke Singosari, dan dari sini melalui Karanglo hendak menuju ke sebelah barat kota Malang. Di mana-mana mereka menghadapi perlawanan sengit, sehingga waktu sore terpaksa kembali ke Lawang. Akan tetapi pada tanggal 30 Juli musuh mulai menyerang secara besar- besaran terhadap kota Malang. Tentara Belanda yang dari Lawang menduduki lapangan terbang Singosari dan dapat mencapai Blimbing, 5 kilometer sebelah utara kota Malang. Tentara yang lain bergerak dari jurusan Tretes, yang melalui lereng Gunung Arjuna mencapai distrik Batu dan Selecta di sebelah barat Malang. (Nasution, 1978 : 252).

Pada zaman pendudukan Prancis, polisi dipersiapkan menghadapi serangan-serangan dari pihak Inggris. Dalam hal ini tugas kepolisian diarahkan bagi kepentingan pertahanan dan bukan ditujukan bagi kepentingan pengamanan masyarakat. Dalam sebuah pertempuran, anggota Polisi Istimewa berhasil merampas tank tentara Inggris. Pada zaman Hindia Belanda polisi memerlukan perhatian khusus dengan meningkatnya kriminalitas. Kondisi ini mendesak pemerintah untuk melakukan reorganisasi di bidang kepolisian yang dilaksanakan pada tahun 1897 dan 1911. Reorganisasi berkaitan dengan penetapan formasi baru kepolisian Hindia Belanda antara lain pengangkatan Komisaris Besar sebagai Kepala Kepolisian di kota-kota seperti, Batavia, Semarang, Surabaya dan Malang. Pemerintahan Militer pada masa pendudukan

Jepang semua aktifitas diperuntukan untuk pemenangan perang. Khusus di bidang kepolisian kebijakan Pemerintahan Penjajahan Jepang mengarah pada penyelenggaraan keamanan dalam negeri, dengan menekankan pada kegiatan preventif yang dibebankan kepada Kenpetai dan Bagian Spesial yang oleh Jepang disebut Tokko Koto yang pada dasarnya adalah Dinas Rahasia Polisi Jepang yang mengemban fungsi intelijen. Urusan kriminal adalah masalah kedua akan tetapi masalah utama adalah perkara-perkara yang berlatar belakang politik (Kunarto, 1997 : 4).

Di Malang didirikan kursus untuk agen polisi yang bertempat di jalan Kelud, beberapa kader tersebut memperoleh pendidikan. Sebagian besar murid- murid terdiri atas mantan-mantan anggota badan perjuangan. Pasukan Mobile Brigade Karesidenan Malang di bawah pimpinan S.Samsuri Mertojoso, berusaha mempertahankan seluruh Karesidenan Malang. Karena mendapat tekanan yang kuat dari pihak Belanda, memindahkan Markas Komandonya, mula-mula ke Sumberpucung kemudian ke Kepanjen. Pertahanan yang menuju ke Kota Malang, yang mendapat tekanan hebat dari tentara Belanda, daerah sebelah timur jalan Surabaya- Malang pun diantaranya Bangil, Pasuruan, Probolinggo dan seluruh Karesidenan Besuki menjadi sasaran utama dari usaha perluasan daerah pendudukan Belanda. Pada tempat-tempat tersebut kesatuan-kesatuan polisi terlibat dalam pertempuran melawan Belanda yang mendarat dari laut di beberapa tempat (Memet, 1971 : 51-52).

Perjuangan Polri Tlogowaru 10 November 1947

Monumen Perjuangan Polri Tlogowaru terletak diperbatasan antara Desa Tlogowaru dan Desa Genengan. Keberadaan monumen yang berarti menandakan pernah terjadi suatu peristiwa sejarah. Monumen Perjuangan Polri Tlogowaru menceritakan peristiwa sejarah tentang penyerbuan terhadap anggota Mobile Brigade oleh pasukan Belanda. Pada sore hari tepatnya tanggal 9 November 1947, Polri mengirim lebih kurang 10 pasukan Mobile Brigade untuk menjaga keamanan Desa Tlogowaru dan sekitarnya. Monumen Perjuangan Polri Tlogowaru

Gambar 1 : Monumen Perjuangan Polri Tlogowaru
Saat malam peristiwa penyerangan itu terjadi bertepatan dengan terang

bulan atau bulan purnama sekitar jam 2 pagi sekitar 200 pasukan Belanda datang menyerbu tempat peristirahatan anggota Mobile Brigade. Mereka datang dari arah barat yang sebelumnya telah berhenti di daerah Kendal Payak yang merupakan Pos II untuk menjaga keamanan, tidak diketahui apa yang sedang terjadi di sana sebab jarak antara Tlogowaru dan Kendal Payak berjarak sekitar kurang lebih 3,5 km.

Menurut seorang saksi mata dan sekaligus korban yang bernama Warimin, melihat Belanda datang dari arah barat Tlogowaru dengan menembaki rumah penduduk. Setelah sampai di Desa Genengan pasukan Belanda mulai memisahkan diri membentang dan mengelilingi desa. Dalam penyerbuan tersebut, pasukan Belanda mengambil senjata (Bayonet) milik anggota Mobile Brigade yang sebelum tidur mereka sembunyikan terlebih dahulu. Senjata itu diketahui oleh seorang mata-mata yang bernama Wariman. Padahal persembunyian senjata itu jauh dari tempat anggota Mobile Brigade yang

istirahat dan ditutupi dengan batang pisang tidak memungkinkan pihak Belanda mengetahui kecuali mereka menyusupkan seorang mata-mata.

Penyerbuan Belanda yang begitu tiba-tiba, bahkan warga yang sedang melakukan patroli ditangkap. Kusno, Durrakim, Warimin, Ali Basor yang sedang patroli di wilayah barat (Tlogowaru), kemudian dari wilayah timur, Sawi, Taki, Dukhah, Tami, Poniran, dan sebagainya. Mereka semua yang ikut menjaga desa diikat dengan tali yang terbuat dari kayu kemudian berjajar dipinggiran parit, ditendang dan dipukul menggunakan bayonet. Setelah mereka mengikat dan menyiksa para penjaga desa bersamaan dengan itu anggota Mobile Brigade yang berada di dalam rumah Narijah, setelah mereka terbangun ditusuk menggunakan bayonet dan pisau, ada pula yang terlebih dahulu diseret keluar rumah kemudian ditusuk. Hampir semua korban yang tewas isi perut mereka terburai keluar. Ada tiga Brigade Mobile yang selamat dalam kejadian itu karena sempat melarikan diri kearah selatan dan menceburkan diri ke sungai, mereka bernama Suwaji, Darmaji, dan Diono. Sedangkan anggota lain ada yang tewas ditemukan terbakar diatas tumpukan sampah kedelai. Seorang anggota Mobile Brigade ada yang menyiasati tubuhnya dengan melumuri darah yang diambil dari tubuh temanya yang telah tewas dengan bersembunyi di bawah tempat tidur.

Kekejaman Belanda tidak hanya sampai disitu saja, jasad para anggota polisi tersebut disandingkan pada bukit sehingga dapat menyangga tubuh. Mereka yang telah gugur ialah: AP (Algemeene Politie/polisi umum) I Abdul Rachman, AP I Sukardi, AP II Soebadi, AP II Selo, AP II Ponidjan, AP II Amat, AP II Koesaeri, AP II Diman, AP I Abdil Madjid, AP II Imam, AP II Satelim, Alim ( Sipil), Narijah (penduduk), dan Durrakim (penduduk). Dalam Monumen Perjuangan Polri Tlogowaru yang tercatat hanya para anggota Mobile Brigade saja sedangkan penduduk yang tewas tidak ikut tercatat karena, monumen tersebut dikhususkan untuk para anggota Polri.

Setelah para pahlawan gugur dimedan perang, para pasukan Belanda pergi dengan menembaki rumah-rumah penduduk menggunakan senjata milik anggota Brimob yang telah gugur. Mereka kembali ke arah barat menuju daerah Kendal Payak bersama tawanan yang terdiri dari 4 anggota Mobile Brigade dan penduduk desa yang lain. Desa Kendal Payak merupakan pos II keamanan

sebagai tempat peralatan perang dan transportasi, seperti truk yang digunakan untuk mengangkut para tawanan perang yang kemudian di bawa ke pusat kota dan diinterogasi. Sebagian tawanan ada yang dilepaskan, akan tetapi tidak diketahui apa yang menjadi sebab sehingga mereka dilepas.

Suasana desa Tlogowaru dan Genengan setelah pertempuran itu selesai penduduk setempat yang semula bersembunyi, semua keluar dan datang ke tempat kejadian untuk melihat dan menolong korban yang masih selamat.Saat itu banyak penduduk yang menyaksikan jasad-jasad para pahlawan gugur dengan cara yang tidak wajar dan berbagai gaya tubuh yang berbeda-beda, darah berceceran dimana-mana, dan banyak rumah-rumah terbakar. Peristiwa itu menorehkan luka yang mendalam pada keluarga, teman, bahkan bangsa Indonesia. Jasad-jasad para anggota Mobile Brigade tersebut dibawa ke tempat asal mereka tinggal karena, mereka semua tidak hanya berasal dari Malang saja melainkan luar Kota Malang tetapi masih dalam satu Provinsi Jawa Timur.

Sejarah lokal apabila diartikan merupakan sebagian sejarah daerah tertentu, maka sejarah tersebut telah lama berkembang di Indonesia. bahkan sejarah yang dimiliki sekarang bermula dari tradisi sejarah lokal seperti itu. Hal ini dapat dihubungkan dengan berbagai sejarah daerah dengan nama-nama tradisional seperti babad, tambo, riwayat, hikayat dan sebagainya yang dengan cara-cara yang khas menguraikan asal-usul suatu daerah tertentu (Ong Hok Ham 1981 :3).
Kontribusi Penelitian Terhadap Pendidikan Sejarah

Pembelajaran sejarah lokal di setiap sekolah memiliki proporsi yang berbeda, tetapi esensinya sama. Mengenalkan anak didik dengan sejarah yang ada di sekitarnya. Menurut salah satu guru sejarah yang kami wawancarai tentang proporsi pembelajaran sejarah lokal di sekolahnya, bisa dikatakan dalam tiga pertemuan, beliau menggunakan satu pertemuan untuk menyisipkan sejarah lokal dalam pelajarannya. Walaupun memang, pembelajaran sejarah lokal lebih mengasyikan bila metode pembelajarannya tepat. Tidak seperti sejarah nasional yang hanya dengan diskusi dan ceramah saja sudah cukup sebagai metode yang digunakan guru. Berdasarkan narasumber tesebut jika, proporsi sejarah lokal

dengan sejarah nasional dapat dikatakan 70 berbanding 30. Maksudnya, 70% adalah materi sejarah nasional, sedangkan 30% adalah materi sejarah lokal. Hal ini dilakukan agar, siswa dapat memahami dan mengerti akan kekayaan sejarah lokal yang ada di daerahnya tanpa melupakan sejarah nasional sebagai pijakan akan materi pembahasan dalam kurikulum

Belajar sejarah pada dasanya adalah belajar tentang kehidupan masyarakat. Berbagai aspek kehidupan dapat dipelajari dalam sejarah. Pembelajaran sejarah di sekolah sebaiknya lebih mudah dipahami siswa. Dalam pembelajaran sejarah hendaknya siswa dapat melihat langsung kehidupan yang nyata. Sejarah lokal dalam konteks pembelajaran di sekolah tidak hanya sebatas sejarah yang dibatasi oleh lingkup ruang yang bersifat administratif saja, melainkan juga sejarah provinsi, sejarah kabupaten, sejarah kecamatan, dan sejarah desa. Bertolak dari sejarah lokal inilah siswa dapat menyadari akan kekayaan tema kehidupan yang terjadi dalam lingkungan masyarakat sekitarnya, sehingga siswa akan lebih bisa memahami dan memaknai peristiwa sejarah. Dengan melatarbelakangi hal tersebut, maka diangkat penelitian yang berjudul Kota Malang Pasca Kemerdekaan (Kajian Sejarah Lokal Perjuangan Polri).

Sejarah Kota Malang pasca kemerdekaan pada tahun 1945 sampai 1947 yang merupakan kajian sejarah lokal perjuangan Polri ini, dalam pendidikan sejarah di Sekolah Menengah Atas yang menjadi bagian dari sub bab yang diajarkan yaitu materi tentang Revolusi Indonesia. Sejarah Kota Malang sebenanya dapat dijadikan muatan lokal tersendiri khusus siswa-siswa Kota Malang, karena menjadi persoalan yang tidak seimbang ketika sejarah kota-kota lain dimasukkan dalam kurikulum sekolah sedangkan keberadaan sejarah kota sendiri tidak pernah diajarkan. Dengan adanya penelitian ini, maka dapat membantu para guru serta siswa untuk mendapatkan referensi yang jelas tentang kota yang sejarah Kota malang melalui kajian perjuangan Polri.
KESIMPULAN DAN SARAN

Pada masa-masa perjuangan Indonesia pada tahun 1945-1949 di Kota Malang telah banyak mengerahkan angkatan bersenjata seperti dari Kepolisian Republik Indonesia yang di kendalikan oleh Mobile Brigade Besar atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan Brimob (Brigade Mobile). Pengendalian Mobile

Brigade Besar sebagai angkatan bersenjata bentukan kepolisian ditunjukkan melalui perjuangan mereka mempertahankan dan merebut kembali Kota Malang dari Sekutu. Lain halnya dengan kepolisian masa sekarang yang bertindak atau berperilaku tidak semestinya diluar tugas utama polisi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Atas dasar permasalahan tersebut menjadi latar belakang penelitian ini yang mengingatkan kembali masa-masa perjuangan Kepolisian Republik Indonesia khususnya di Kota Malang. Pada penelitian sejarah Kota Malang ini yang menjadi berbeda dengan penelitian lain adalah mengangkat kajian histori tentang perjuangan Polri di Kota Malang pada tahun 1945 sampai 1947. Penelitian lain yang juga dapat diangkat adalah Sejarah Perkembangan Polri di Kota Malang pada Tahun 1949 karena pada masa itu Polri banyak mengalami perubahan karena bersamaan dengan terjadinya perubahan struktur organisasi Polri serta Agresi Militer Belanda II.

DAFTAR RUJUKAN

Kunarto. 1997. Perilaku Organisasi Polri. Jakarta : Cipta Manunggal.

Tim Penulis. 1954. 40 Tahun Kota Malang. Malang : V. Nimef

Suparlan, Parsudi. Bunga Rampai Ilmu Kepolisian Indonesia. Jakarta : Yayasan Pengembangan Kajian Ilmu Kepolisian.

Tjhan, Siauw Giok. 1981. Lima Zaman Perwujudan Integrasi Wajar. Jakarta- Amsterdam : Yayasan Teratai.

Tanumidjaja, Memet. 1971. Sedjarah Perkembangan Angkatan Kepolisian.Jakarta: Departemen Pertahanan-Keamanan Pusat Sedjarah ABRI.

Moehkardi, 1983. TGP (Tentara Genie Pelajar) 1945-1950. Surabaya : UD Sapta Putra Offset.

Nasution, A.H. 1978. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Periode Agresi Militer Kolonial Belanda I jilid 5. Bandung: Disjarah AD dan Angkasa Bandung.

Polres Lumajang berhasil mengungkap pelaku cabul di pinggir sungai setahun lalu

Tribratanewsjatim.com – Lumajang (14/2). Edi alias Ponaidi (25) warga asal Dusun Karanganyar Desa Kalidilem Kecamatan Randuagung    Kabupaten   Lumajang   ditangkap    oleh Anggota Unit PPA dan Resmob Polres Lumajang Sabtu malam (13/2) sekira jam 24:00 wib. Penangkapan ini   berdasarkan   Laporan  yang di terima pihak Kepolisian dari orang tua korban atas perbuat Edi (pelaku) yang nekad menyetubuhi   (korban)   Dinda   amalia   yang tergolong masih di bawah umur. lmj cabulKejadian Tepatnya  30 agustus 2014 lalu, di Desa Rojopolo Kecamatan   Jatiroto   Kabupaten   Lumajang   Edi (Pelaku ) melancarkan aksinya menyetubuhi Korban di pinggir   sungai   belakang   rumah   korban   dengan cara pelaku   membekap   mulut   Berdasarkan   informasi   yang  di himpun dari pihak Kepolisian, peristiwa bermula  saat itu   korban   mendapat   telepon   dari pelaku, selanjutnya   dalam   komunikasi   via telepon   tersebut, pelaku mengajak korban bertemu di  sungai   belakang   rumah   korban,  sesaat   bertemu   korban   di ajak berbincang-bincang dan tiba-tiba pelaku menarik tangan korban serta membekap mulut korban lalu pelaku menyetubuhi korban. Kronologi penangkapan Tepatnya tad  i malam   sekira     jam  24:00 wib   Anggota   Unit   PPA   dan  Resmob Polres Lumajang menangkap seorang  pelaku   persetebuhan   terhadap   anak   di bawah umur, yakni     Edi alias Ponaidi   (25)  warga Desa Kalidilem Randuagung, saat di tangkap,   pelaku    mengakui    perbuatannya    ( menyetubuhi korban )   yang    di lakukannya beberapa tahun lalu  sebanyak   1(satu)   kali tepat  di  pinggir   sungai belakang rumah korban.  Tentunya anggota dengan upaya keras dalam   melacak   dan   mengorek   informasi akurat akan perbuatan yang di lakukan oleh pelaku. Sementara pelaku  saat ini  diamankan   di Mapolres   Lumajang  untuk menjalani proses hukum lebih lanjut guna mempertanggung jawabkan perbuatannya.(umam/gatot)  

Kapolrestabes Surabaya Malam Mingguan bersama Ratusan Crime Hunter di Taman Bungkul

140216 kapolrestabes kumpulkan crime 2Tribratanewsjatim.com – Jaga     Keamanan dan Kondusifitas Kota Besar Surabaya, Kapolrestabes  Surabaya  Kumpulkan  Personil   Crime Hunter Sat Reskrim   Polrestabes   Surabaya   dan   Polsek   Jajaran  di   Taman  Bungkul Surabaya pada Sabtu Malam (13/02). Apel     Gabungan    yang   digelar  oleh Polrestabes Surabaya di Taman Bungkul Surabaya ini diikuti   oleh    ratusan personil Crime Hunter dan Crime Reserse    dari  Polrestabes  Surabaya  dan jajaran seluruh Polsek di wilayah hukum Polrestabes  Surabaya. Kegiatan ini bertujuan untuk berbagi informasi dan     menjaga  keamanan kota surabaya. Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya    AKBP Takdir  Mattanete mengatakan, Apel gabungan yang sengaja   digelar pada   malam  hari ini bertujuan untuk saling berbagi   informasi   tentang   kemungkinan    adanya   kejadian    atau peristiwa    tindak    kejahatan   yang   ada  di  wilayah   hukum    Polrestabes Surabaya. “Apel gabungan ini diikuti sebanyak 300 personel dari jajaran anggota polsek dengan anggota Polrestabes Surabaya,” Katanya. Sabtu (13/02/2016) malam hari.

Crime Hunter Apel Malam Mingguan di Taman Bungkul bersama Kapolrestabes Surabaya
Crime Hunter Apel Malam Mingguan di Taman Bungkul bersama Kapolrestabes Surabaya

Selain     saling   membagi   informasi    seputar    kriminalitas  di   kota Surabaya, Apel Gabungan ini juga dapat dijadikan ajang   silaturrahmi antar anggota Reserse di Jajaran Polrestabes Surabaya sehingga dapat mempererat jalinan komunikasi antar personil   Penegak   Hukum ini.  “Inilah seluruh   personil  yang   benar   benar mengawal dan menjaga keamanan   kota surabaya   baik  siang dan malam yang ada diwilayah hukum   Polrestabes   surabaya ,” Jelas   AKBP Takdir Mattanete   saat memimpin   langsung  Apel  Gabungan   di Taman   Bungkul Surabaya. Kapolrestabes Surabaya, Kombespol  Drs.  Iman  Sumantri, M.Si yang sengaja hadir  di tengah   Personil Crime   Hunter   ini   berpesan  agar kepada seluruh personil agar senantiasa meningkatkan   kewaspadaan terhadap ancaman kriminalitas yang  mencoba   mengusik ketenangan warga kota   Surabaya.  Beliau   juga   memerintahkan   kepada seluruh personil agar tidak  pandang    bulu dalam mengungkap suatu perkara. “Bagaimanapun    juga   ,   apa     yang    kalian    kerjakan    dilapangan sepenuhnya      merupakan      tanggung   jawab    saya sebagai seorang pimpinan”, tegas Kapolrestabes Surabaya.(umam/tbs)

Kapolres Kediri dan Dandim patroli antisipasi luapan lahar kelud

Tribratanewsjatim.com – Antisipasi Kerawanan Lahar Dingin Kelud serta dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat diwilayah Kabupaten Kediri.   Polres   Kediri   dan   Kodim 0809 Kediri melaksanakan Patroli di aliran lahar sungai Pulo Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri.

Patroli Gabungan survey Aliran lahar dingin Gunung Kelud
Patroli Gabungan survey Aliran lahar dingin Gunung Kelud

Patroli gabungan yang dipimpin Kapolres Kediri AKBP Akhmad Yusep Gunawan S.H. , S.I.K. , M.H dan       Komandan       Kodim 0809 Kediri Letkol Inf        Purnomosidi      didampingi    Kasat Sabhara,    Kapolsek Puncu    dan     Danramil    Puncu    serta   beberapa Anggota baik Polri dan TNI berlangsung aman dan kondusif Sabtu (13/2) siang. Kegiatan Patroli kali ini  bertujuan   untuk    melihat    situasi dan kondisi sungai aliran lahar kelud  guna antisipasi lahar dingin mengingat curah hujan yang tinggi akhir akhir ini. Saat  patroli Kapolres Kediri mengingatkan warga yang melakukan    aktivitas di aliran lahar agar berhati hati saat turun    hujan.    “Kami    sampaikan     himbauan     kepada warga yang melakukan aktivitas di sekitar aliran  lahar    agar    berhati hati      manakala   turun   hujan    karena    dikhawatirkan akan terjadinya banjir bandang / lahar dingin material dari gunung kelud.” Ungkap Kapolres. (Umam/Hr) 

Polres Mojokerto sidik 14 Pengedar Narkoba dari 12 TKP

Tribratanewsjatim.com – Meski Operasi Tumpas Narkoba Semeru 2016 masih berjalan satu minggu, namun Satnarkoba Polres Mojokerto telah berhasil mengamankan 14 tersangka dari 12 Tempat Kejadian Perkara (TKP). Sebanyak 4.637 butir pil double L dan 11,704 gram sabu berhasil disita dari para tersangka.

Press Release Ops Tumpas 2016
Kapolres Mojokerto Press Release “Ops Tumpas 2016”

Kapolres Mojokerto, AKBP Budhi Herdi Susianto, SH, SIK, MSi mengatakan, enam hari Operasi Tumpas Narkoba Semeru 2016, anggota Satnarkoba berhasil mengamankan 14 tersangka dari 12 TKP. “Sebanyak 4.637 butir double L dan 11,7 gram sabu yang menjadi barang bukti para tersangka ikut diamankan,” ungkapnya.

Sebanyak 12 TKP tersebut pengungkapan baik oleh anggota Satnarkoba Polres Mojokerto dan polsek jajaran. Sebanyak dua kasus dengan lima tersangka diamankan anggota Satnarkoba Polres Mojokerto dan sebanyak 9 kasus dengan sembilan tersangka berhasil diamankan polsek jajaran. “Mereka dijerat UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika serta UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Ke 14 tersangka diamankan di lokasi berbeda tapi masih dalam wilayah hukum Polres Mojokerto, anggota kami masih melakukan penyelidikan apakah mereka dalam satu jaringan apa tidak,” katanya.

Masih kata Kapolres, antara satu tersangka dengan yang lainnya berbeda jaringan. Apakah hal tersebut sengaja dibuat seperti, Kapolres menegaskan, masih dalam penyelidikan. Namun semua barang haram tersebut berasal dari luar wilayah hukum Polres Mojokerto baik wilayah tetangga maupun wilayah luar propinsi. “Barang bukti pil double L cukup banyak yang diamankan karena barang haram ini cukup murah, 1 butirnya seharga Rp1 ribu. Untuk dipasarkan ke pelajar cukup terjangkau dan memungkinkan sehingga dilihat para tersangka sebagai peluang. Pelajar masih jadi atensi kita meski sasaran peredaran narkoba sudah bervariasi,” ujarnya.

Sasarannya, lanjut Kapolres, semua kalangan dan tidak hanya di wilayah pinggiran saja namun sudah cukup luas. Seperti penangkapan tersangka pengedar sabu di depan rumah Perum Platinum Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Menurutnya, pemberantasan peredaran narkoba tidak bisa dilakukan sendiri namun harus dilakukan semua pihak.(umam/sar)

Semalam, Peserta Rapim Dihibur Bhayangkara Band Polda Jatim

band penghibur Rapim Polri 2016TribratanewsJatim.com: Semalam, peserta rapat pimpinan (Rapim) Polda Jatim 2016 yang digelar di Batu, Malang, Jawa Timur, Kamis (11/2/2016) dihibur Bhayangkara Band Polda Jatim.

Tentunya, selain penyanyi yang tampil dari anggota Ditsabhara Polda Jatim, juga diantara peserta Rapim ada yang menyumbangan suara emasnya. Acara yang cukup menghibur ini untuk meringankan kejenuhan, setelah seharian para peserta mengikuti kegiatan Rapim.

Sebagaimana diketahui, dengan ditandai dengan ketuk palu, Kapolda Jatim Irjen Anton Setiadji membuka Rapat Pimpinan (Rapim) Polri 2016, Kamis (11/2/2016) di Batu, Malang, Jawa Timur. Rapim bertajuk “ Dengan Memperkuat  Solidaritas, Profesionalisme dan Revolusi Mental, Polda Jatim Siap Mengamankan  Kebijakan Pemerintah”.

Kegiatan tersebut selain dihadiri Gubernur Jatim Soekarwo dan Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Sumardi, juga dihadiri Pejabat Utama Polda Jatim mulai Irwasda, Dirreskrimsus, Dirreskrimum, Dirnarkoba, Kabid Humas, Dirsabhara, dan Dirintelkam serta Dirlantas Polda Jatim. Peserta lain para Kapolres jajaran Polda Jatim.

Kapolda Jatim Irjen Anton Setiadji menegaskan, situasi stabilitas kamtibmas di Jawa Timur selama tahun 2015 terkendali. Selain itu, para Kasatwil  harus mampu melakukan pemetakan wilayahnya, agar mampu  mendeteksi  lebih awal.

Selain itu, kasus kasus yang telah ditangani hendaknya terus dikembangkan dan para Kasatwil tetap melakukan koordinasi secara inten dengan para pendukung pimpinan daerah termasuk calon pimpinan daerah yang masih terkendala dengan masalah Pilkada Serentak 2015 lalu. (mbah heru/boby/jacky)

Foto: Dihibur Bhayangkara Band Polda Jatim, peserta Rapim Polda Jatim

Lomba BAKIAK, Wujudkan kekompakan Polisi dengan Tentara

Latih kerjasama : Maju Ayo maju ... ayo terus maju... kanan ... kiri...
Latih kerjasama : Maju Ayo maju . . .  ayo terus maju . . .
kanan . . . kiri . . .

Tribratanewsjatim.com – Kekompakan dalam bertugas dalam mengabdi kepada Negara Indonesia yang tercinta, diwujudkan dengan permainan tradisional Bhabinkamtibmas bersama anggota Koramil Sawahan Madiun menggelar latihan memakai sandal bakiak menjelang lomba di Kantor Kecamatan Mejayan besuk hari Minggu tanggal 14 Pebruari 2016.

Hari ini Kamis, (11/02/16) anggota Bhabinkamtibmas Brigadir Sunarto dan Brigadir Joko Nur mewakili Polsek Sawahan untuk menjadi tim bersama anggota koramil kec. Sawahan. Dimana satu tim atau kelompok terdiri dari tiga orang untuk mengikuti lomba bakiak.

Perlu diketahui Permainan bakiak merupakan permainan tradisional Indonesia yang dimainkan secara bersamaan dalam 1 kelompok atau regu. Bahannya dibuat dari kayu panjang seperti seluncur es yang sudah dihaluskan (diamplas) dan diberi beberapa selop diatasnya, biasanya dimainkan untuk 2-3 orang yang berjalan diatas kayu tersebut dalam berlomba untuk sampai ke finish.

Permainan ini melatih kekompakan/kerjasama, konsentrasi, dan menguji ketangkasan, kepemimpinan, kreatifitas, wawasan serta kejujuran. karena anak-anak diajarkan untuk berjalan bersama dengan satu pasang sandal secara bersamaan. Kelomok atau regu yang mencapai garis finish paling pertama dengan kompak memenangkan permainan bakiak tersebut.(umam)

Polres Trenggalek akomodir Seragam Dinas Polwan Berjilbab

Tribratanewsjatim.com – Polwan berjilbab ? kenapa tidak. Polri merupakan salah satu dari sekian banyak lembaga negara yang memberikan akses bagi anggotanya untuk menggunakan jilbab. Keberadaan Polwan berjilbab sendiri sempat menjadi kontroversial beberapa tahun silam antara boleh dan tidak karena memang tidak ada larangan dalam penggunaannya meskipun juga tidak disebutkan dengan jelas dalam pertaruan gampol Polwan. Pada awalnya karena belum ada aturan yang jelas para Polwan dalam berjilbab menggunakan warna dan model jilbab bermacam-macam, tentu ini menjadi perhatian tersendiri oleh pimpinan Polri agar ada keseragaman berjilbab tanpa meninggalkan identitas Polri dan memiliki estetika sehingga tetap anggun dilihat.

Sekarang Polwan tak perlu ragu lagi, di penghujung tahun 2015 lalu tepatnya tanggal 16 Desember 2015, Kapolri telah mengesahkan Peraturan Kapolri No 19 tahun 2015 tentang pakaian dinas Polri dimana salah satu nya mengatur pakaian dinas Polwan berjilbab. Perkap ini mendapatkan sambutan cukup hangat dari masyarakat karena Polri secara kelembagaan telah mengakomodir wanita muslimah yang ingin berjilbab.

Guna mensosialisasikan peraturan tentang seragam Polwan berjilbab, hari ini Rabu (10/02/2016), Kabag sumda Polres Trenggalek yang juga seorang Polwan Kompol Sumilih, S.H. mengumpulkan seluruh Polwan dan PNS dirupatama Polres Trenggalek untuk menyampaikan batasan-batasan dan aturan penggunaan jilbab. “Perkap ini akan menjadi acuan agar ada keseragaman baik warna maupun betuk jilbab bagi Polwan dan PNS wanita” ujar Sumilih.

Seragam dinas Polwan Berjilbab
Seragam dinas Polwan Berjilbab

Dalam lampiran “Y” Perkap No 19 tahun 2015, terdapat 35 macam seragam Polwan berjilbab. Sedangkan warna jilbab disesuaikan dengan gampolnya itu sendiri. Warna coklat tua khas polisi mendominasi hampir semua gampol. Jilbab warna hitam diperuntukkan bagi seragam dinas PDU-II, PDL-II Brimob, PDL-III pelaut polair, pakaian dinas pelayanan jaringan TI, pakaian dinas SAR, pakaian dinas persidangan, pakaian dinas museum, pakaian dinas crisis respons team, pakaian dinas penerbang/helikopter dan pakaian dinas joki. Warna lainnya yakni abu-abu digunakan untuk Pakaian dinas musik gabungan dan coklat muda gurun diperuntukkan bagi mereka yang tergabung dalam pasukan keamanan PBB.

Dari 35 jenis gampol polwan berjilbab, yang paling sering dipakai adalah jenis PDH dan PDL-I dan PDL-II Sabhara. Aturan gampol sebagaimana dibawah ini :

PDH POLISI TUGAS UMUM

  1. Tutup kepala:
  2. Pet Polwan warna cokelat tua polisi dengan emblem Tribrata, lis dan hiasan pada klep sesuai golongan kepangkatan.
  3. Fieldcap warna cokelat tua polisi dengan logo Tribrata, lis dan hiasan pada klep sesuai golongan kepangkatan.
  4. Jilbab warna cokelat tua polisi.
  5. Tutup badan:
  6. Kemeja lengan panjang warna cokelat muda polisi memakai lidah pundak dengan satu kancing dan kerah tidur.
  7. kemeja belahan depan polos dengan lima kancing dan dua saku tempel memakai tutup dengan masing-masing satu kancing.
  8. Celana panjang warna cokelat tua polisi dengan dua saku samping model miring.
  9. Sabuk kecil warna hitam, timang dengan dasar polos warna kuning emas berlogo Tribrata.
  10. Tutup kaki:
  11. Sepatu dinas ankleboots warna hitam.
  12. Kaus kaki dinas harian warna hitam.

 

PDL-I POLISI TUGAS UMUM

1.Tutup kepala:

  1. Fieldcap warna cokelat tua polisi dengan logo Tribrata, lis dan hiasan pada klep sesuai golongan kepangkatan.
  2. Jilbab warna cokelat tua polisi.
  3. Tutup badan:
  4. Kemeja lengan panjang warna cokelat muda polisi dengan manset, memakai lidah pundak dengan satu kancing dan kerah tidur.
  5. Kemeja belahan depan polos dengan lima kancing, dua saku tempel memakai tutup masing-masing dengan dua kancing.
  6. Celana panjang warna cokelat tua polisi dengan tiga lus besar, dua saku samping model miring dan dua saku belakang model bobok tanpa tutup.
  7. Sabuk kecil warna hitam, timang dengan dasar polos warna kuning emas berlogo Tribrata.
  8. Sabuk besar warna hitam, timang dengan dasar polos warna kuning emas berlogo Tribrata.
  9. Tutup kaki:
  10. Sepatu dinas ankleboots warna hitam.
  11. Kaus kaki dinas harian warna hitam.

 

PDL-II TWO TONE SABHARA

  1. Tutup kepala:
  2. Baret warna cokelat tua polisi dengan emblem Tribrata dalam bingkai pita warna kuning emas dan emblem warna kuning.
  3. Jilbab warna cokelat tua polisi.
  4. Tutup badan:
  5. Kemeja lengan panjang warna cokelat muda polisi tanpa manset, memakai lidah pundak dengan satu kancing dan kerah tidur.
  6. Kemeja belahan depan dengan lima kancing dalam dan dua saku harmonika memakai tutup.
  7. Celana panjang warna cokelat tua polisi memakai tiga lus besar, dua saku samping model miring, dua saku paha model harmonika memakai tutup dan dua saku belakang model tempel memakai tutup.
  8. Sabuk kecil warna hitam, timang dengan dasar polos warna kuning emas berlogo Tribrata.
  9. Kopelriem warna hitam.
  10. Tutup kaki:
  11. Sepatu dinas lapangan warna hitam.
  12. Kaus kaki dinas lapangan warna hitam.

Menutup acara sosialisasi Kompol Sumilih.S.H. , berkenan memberikan tali asih kepada Polwan dan PNS yang berdedikasi tinggi dalam bekerja. (umam/galek)

Ditandai Ketuk Palu, Kapolda Jatim Buka Rapim Polri 2016

11 rapim polri di batuTribratanewsJatim.com: Ditandai dengan ketuk palu, Kapolda Jatim Irjen Anton Setiadji membuka Rapat Pimpinan (Rapim) Polri 2016, Kamis (11/2/2016) di Batu, Malang, Jawa Timur. Rapim bertajuk “ Dengan Memperkuat  Solidaritas, Profesionalisme dan Revolusi Mental, Polda Jatim Siap Mengamankan  Kebijakan Pemerintah”.

Kegiatan tersebut selain dihadiri Gubernur Jatim Soekarwo dan Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Sumardi, juga dihadiri Pejabat Utama Polda Jatim mulai Irwasda, Dirreskrimsus, Dirreskrimum, Dirnarkoba, Kabid Humas, Dirsabhara, dan Dirintelkam serta Dirlantas Polda Jatim. Peserta lain para Kapolres jajaran Polda Jatim.

11 rapim polriKapolda Jatim Irjen Anton Setiadji menegaskan, situasi stabilitas kamtibmas di Jawa Timur selama tahun 2015 terkendali. Selain itu, para Kasatwil  harus mampu melakukan pemetakan wilayahnya, agar mampu  mendeteksi  lebih awal.

Selain itu, kasus kasus yang telah ditangani hendaknya terus dikembangkan dan para Kasatwil tetap melakukan koordinasi secara inten dengan para pendukung pimpinan daerah termasuk calon pimpinan daerah yang masih terkendala dengan masalah Pilkada Serentak 2015 lalu. (mbah heru/boby/jacky)

Ingin Lahirkan generasi berkualitas, Polsek Jajaran di Trenggalek road Show Progam Smart-G

Tribratanewsjatim.com – Smart-G yang dicanangkan oleh Kapolres Trenggalek AKBP I Made Agus Prasatya, SIK, M.Hum. telah berjalan. Masing-masing Polsek mulai mempersiapkan diri. Program yang dikhususkan bagi pelajar ini memang mencangkup beberapa kegiatan mulai dari penyuluhan terpadu sampai berbagai lomba yang diikuti oleh perwakilan sekolah-sekolah, salah satunya adalah lomba PKS dan Satuan Pramuka Bhayangkara.

Road Show Program Smart-G Polsek Jajaran Polres Trenggalek
Road Show Program Smart-G Polsek Jajaran Polres Trenggalek

Mereka dilatih khusus oleh anggota Polsek kemudian diseleksi, dipilih yang terbaik kemudian dijadikan satu peleton pasukan pelajar. Peleton inilah yang nantinya akan dikirim untuk berlomba di tingkat Polres. Masing-masing Bhabinkamtibmas pun blusukan ke sekolah-sekolah untuk mencari bibit unggul seperti halnya slogan Smart-G “generasi cerdas, generasi tertib, generasi hebat”.

Tak tanggung-tanggung, Kapolsekpun turun langsung ke lapangan untuk melatih para generasi muda ini. Seperti yang dilakukan oleh Kapolsek Karangan AKP M. Solikin, SH, ia langsung turun ke beberapa sekolah. Tidak hanya mengawasi tapi bertindak sebagai pelatih. “Kami sudah siapkan tim dari Polsek Karangan dengan matang. Semoga nanti bisa memberikan yang terbaik,” ujar Solikin. “Kami juga bekerjasama dengan UDP Kec. Karangan maupun Koramil,” tambahnya.

Tak mau ketinggalan Polsek Gandusari, Kampak, Pule, Panggul dan Munjungan pun melakukan hal yang sama. Para Kapolsek ini terlihat aktif melatih para pelajar sekolah. Bahkan Polsek Kampak melatih sekaligus mulai dari SD, SMP dan SMA di lapangan Kampak.

“Materi awal yang diberikan berupa pelatihan baris-berbaris, karena dari sini mereka akan terlatih team work dan belajar kedisiplinan,” jelas AKP Eko Martono. Masing-masing tingkat sekolah dilatih oleh sekurangnya dua orang pelatih dari Polsek setempat.

Berbeda dengan Polsek Pule, bertempat di SMPN 1 Pule, Iptu Suradji memberikan materi bagaimana mengatur lalu lintas yang baik. Diantaranya adalah 12 gerakan lalu lintas. “Nantinya mereka akan membantu Polisi pengaturan lantas pagi dan siang hari di depan sekolah,” ujar Kapolsek yang baru 2 bulan menjabat ini.

Dari pantauan penulis, para pelajar tampak riang dengan metode pelatihan yang diberikan oleh anggota Polsek. Tak terlihat sama sekali wajah mengeluh meskipun sedikit lelah tapi raut muka mereka menunjukkan rasa semangat yang tinggi. Ya, Kapolres Trenggalek sendiri telah menekankan bahwa dalam melatih dan memberikan pembelajaran haruslah dengan suasana yang menyenangkan. Kalau perlu disertai dengan jok-jok segar agar tidak membosankan.(umam/galek)