PERJUANGAN POLRI DI TLOGOWARU-MALANG 1945-1947 YANG TERLUPAKAN

 

Screen Shot 2016-03-01 at 6.15.08 PM

Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Ada lima tahap yaitu pemilihan topik, heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi menghasilkan Pengendalian Mobile Brigade Besar sebagai angkatan bersenjata bentukan kepolisian ditunjukkan melalui perjuangan mereka mempertahankan dan merebut kembali Kota Malang dari Sekutu. Lain halnya dengan kepolisian masa sekarang yang bertindak atau berperilaku tidak semestinya diluar tugas utama polisi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Atas dasar permasalahan tersebut menjadi latar belakang penelitian ini yang mengingatkan kembali masa-masa perjuangan Kepolisian Republik Indonesia khususnya di Kota Malang.

Kata Kunci: Kota Malang, Perjuangan Polri.

Abstract: The purpose of this study was to describe the events underlying the establishment of the Police Struggle Monument Tlogowaru. The method used in this study is the historical method. There are five stages: topic selection, heuristics, source criticism, interpretation and historiography generate Control Mobile Brigade Major as armed police formations demonstrated through their struggle to defend and reclaim the city of Malang from Allied. As with the present police acting or behaving inappropriately outside the main task of the police as a patron and protector of society. On the basis of these issues into the background of this research recalling the days of the Republic of Indonesia Police struggle especially in the city of Malang.

Keywords: Malang, Police Struggle.

Perjuangan kepolisian RI pada masa kemerdekaan sampai perjuangan pada Agresi Militer Belanda I banyak menimbulkan gejolak di masyarakat. Hal ini membuat rakyat Indonesia tidak berdiam diri, dengan dibuktikannya perlawanan terhadap Belanda oleh pihak-pihak Angkatan bersenjata bentukan pemerintah maupun inisiatif rakyat akibat tekanan yang ditimbulkan Sekutu. Pada masa-masa perjuangan Indonesia pada tahun 1945-1949 di Kota Malang telah banyak

mengerahkan angkatan bersenjata seperti dari Kepolisian Republik Indonesia yang di kendalikan oleh Mobile Brigade Besar atau sekarang yang disingkat Brimobe. Pengendalian Mobile Brigade Besar sebagai angkatan bersenjata bentukan kepolisian ditunjukkan melalui perjuangan mereka mempertahankan dan merebut kembali Kota Malang dari Sekutu.

Berkaitan dengan hal tersebut telah jelas bahwa fungsi polisi dalam masyarakat sebagai pranata atau institusi yang ada dalam masyarakat Indonesia dan peranannya untuk menciptakan dan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Namun, integritas polisi sekarang dibandingkan dengan integritas polisi pada masa revolusi fisik memiliki perbedaan. Di sisi lain, polisi pada masa revolusi fisik berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia tanpa mendapat imbalan yang setimpal bahkan rela kehilangan jiwa dan raga, sedangkan kinerja polisi sekarang dengan orientasi yang sama yaitu mengayomi masyarakat tidak sepenuhnya benar-benar dijalankan.

Perjuangan polisi terdahulu dalam melawan penjajah seharusnya menjadi contoh polisi sekarang dalam menjalankan tugas yang semestinya sesuai sumpah mereka saat bersatu di kepolisian .Beberapa kasus yang sekarang yang banyak melibatkan kepolisian ini, penulis berusaha mengangkat kembali perjuangan Polri di Kota Malang sebagai langkah untuk menunjukkan bahwa perjuangan Polri riil sesuai tugas dan kewajiban mereka dalam melindungi dan mengayomi masyarakat dibalik keadaan kepolisian yang sekarang dipandang sebagai aparat kebohongan masyarakat.

Keberadaan dan fungsi polisi dalam masyarakat bukan hanya mencakup kewajiban petugas-petugas polisi tetapi juga hak-hak atas pendapatan yang layak, sehingga para petugas polisi dapat hidup layak sesuai dengan tugas-tugas dan resiko dalam menjalankan tugas (Suparlan, 2004 : 174). Berkaitan dengan hal tersebut diatas telah jelas bahwa fungsi polisi dalam masyarakat sebagai pranata atau institusi yang ada dalam masyarakat Indonesia dan peranannya untuk menciptakan dan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Namun, integritas polisi sekarang dibandingkan dengan integritas polisi pada masa revolusi fisik memiliki perbedaan. Perjuangan polisi terdahulu dalam melawan

penjajah seharusnya menjadi contoh polisi sekarang dalam menjalankan tugas yang semestinya sesuai sumpah mereka saat bersatu di kepolisian.Beberapa kasus yang sekarang yang banyak melibatkan kepolisian ini, penulis berusaha mengangkat kembali perjuangan Polri di Kota Malang sebagai langkah untuk menunjukkan bahwa perjuangan Polri riil sesuai tugas dan kewajiban mereka dalam melindungi dan mengayomi masyarakat dibalik keadaan kepolisian yang sekarang dipandang sebagai aparat kebohongan masyarakat. Berkenaan dengan revolusi, M Zed (1980:20) mengemukakan definisi revolusi yang berarti perubahan secara cepat dan keras pada bentuk ekonomi, politik atau sosial dari suatu negara. Dilihat dari sudut pandang politis revolusi merupakan suatu usaha sadar dan sengaja untuk mengubah suatu tatanan kemasyarakatan dan ketatanegaraan dengan kekerasan. Sekutu dan Belanda maupun konflik yang terjadi antara berbagai golongan. Revolusi Indonesia menurut Crib merupakan suatu momen pembebasan yang memungkinkan rakyat Indonesia menentukan masa depannya sendiri dan bukan suatu politik dengan revolusi secara tidak harfiah anti Belanda melainkan anti imperialis dan anti kolonialisme (Crib,1990:9). Kepolisian mengandung pengertian yang berbeda. Istilah “polisi” adalah sebagai organ atau lembaga pemerintah yang ada dalam Negara, dan istilah “kepolisian” adalah sebagai organ dan sebagai fungsi. Sebagai organ, yakni suatu lembaga pemerintah yang terorganisasi dan terstruktur dalam organisasi Negara, sedangkan sebagai fungsi, yakni tugas dan wewenang serta tanggung jawab lembaga atas kuasa undang-undang untuk menyelenggarakan fungsinya, antara lain pemeliharaan keamanan, dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, pelindung, pengayom dan pelayan kepada masyarakat (Khoidi, 2005: 36). Tumbuh dan berkembangnya Polri memang tidak lepas dari sejarah perjuangan kemerdekaan RI. Sejak proklamasi 17 Agustus 1945, Polri dihadapkan pada tugas-tugas yang unik dan kompleks.

Tujuan penelitian ini sebagai (1)Mendeskripsikan keadaan Kota Malang pada masa kolonialisme hingga kemerdekaan yang merupakan awal keberadaan Belanda di Kota Malang. (2) Mendeskripsikan keadaan Kota Malang pada masa kolonialisme hingga kemerdekaan yang merupakan awal keberadaan Belanda di Kota Malang. (3) Mendeskripsikan peristiwa yang melatarbelakangi berdirinya

Monumen Perjuangan Polri Tlogowaru. (4) Mendeskripsikan perjuangan kepolisian di Kota Malang tahun 1945-1947 sebagai kontribusi pada pendidikan sejarah khususnya sejarah lokal. Atas dasar permasalahan tersebut menjadi latar belakang penelitian ini yang mengingatkan kembali masa-masa perjuangan Kepolisian Republik Indonesia khususnya di Kota Malang. Penelitian lain yang juga dapat diangkat adalah Sejarah Perkembangan Polri di Kota Malang pada Tahun 1949 karena pada masa itu Polri banyak mengalami perubahan karena bersamaan dengan terjadinya perubahan struktur organisasi Polri serta Agresi Militer Belanda II.

METODE
Pemilihan topik ini diambil oleh penulis sebagai bentuk kepedulian

terhadap sejarah Kota Malang, karena penulis memiliki kedekatan emosional karena penulis merupakan penduduk asli Malang.

Sumber Primer yang digunakan oleh penulis berkaitan dengan peristiwa ini. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan sumber primer hasil wawancara yang dilakukan secara mendalam dari informan yang dianggap kompeten yaitu pelaku ataupun saksi hidup serta arsip yang mendukung. Sumber sekunder berupa koran Harian Rak’jat yang terbit pada tahun 1946-1947, Koran Berdjoeang yang terbit tahun 1946-1947, dan Koran Keng Po yang terbit pada tahun 1947 yang berisi tentang situasi Indonesia umumnya dan Kota Malang khususnya.

Kritik ekstern menilai, apakah sumber itu benar-benar sumber yang diperlukan, Apakah sumber itu asli, turunan, atau palsu. Dengan kata lain, kritik ekstern menilai keakuratan sumber. Kritik intern menilai kredibilitas data dalam sumber.

Observasi dilakukan peneliti dalam mengumpulkan data-data sebagai penunjang penelitiannya, menggunakan observasi analisis dokumen yaitu menggunakan beberapa dokumen-dokumen sebagai informasi tambahan dalam menginterpretasi data atau temuan.

Langkah terakhir dari penelitian sejarah (metode sejarah) adalah merangkaikan fakta berikut maknanya secara kronologis atau diakronis dan sistematis, menjadi tulisan sejarah sebagai kisah.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Perkembangan Kepolisian di Kota Malang 1945-1947

Pada tanggal 8 Maret 1942 tentara Jepang memasuki Kota Malang. Salah satu usaha mereka pertama ialah mengambil kembali pemerintahan Kotapraja, pegawai berkebangsaan Indonesia menggantikan kedudukan pegawai Belanda dalam meneruskan pekerjaan dalam pemerintahan. Kotapraja diperintahkan mengadakan pendaftaran untuk Romusha, Heiho, Seinendan, Keibodan, Jibakutai (Tim Penulis, 1954 : 20).

Pada tanggal 5 Oktober 1945 Pemerintah Republik Indonesia mendekritkan pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai wujud peningkatan bentuk serta organisasi dari BKR. Pada tanggal 12 Nopember 1945 atau 2 hari sesudah rakyat Surabaya sama sekali tidak memperhatikan ultimatum Mayor Jenderal Mansergh, kemudian diadakan konferensi pertama dari sepuluh divisi di Jawa (kecuali Surabaya). Daerah Malang termasuk wilayah divisi VIII yang meliputi Malang dan Besuki yang berada di bawah pimpinan Mayor Jenderal Sudjai.

Di luar tentara bentukan Pemerintah Republik Indonesia masih terdapat lasykar pejuang yang mengkoordinir antara lain Divisi Djago, Divisi Hizbullah dan Divisi TRIP Jawa Timur, untuk wilayah Malang terdapat 5000 Batalyon.

Divisi TRIP Jawa Timur diberikan kepercayaan membawa tawanan perang APWI atau para tawanan perang Sekutu yang ditawan oleh tentara Jepang, dari stasiun kereta api di Malang sampai diserah terimakan kepada tentara Sekutu di Tambun, Bekasi. Komandan TRIP Yon 5000 Malang menugaskan seksi SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas) di bawah pimpinan Sudiono Wardoyo (Sagimun, 1989 : 191).

Pada saat-saat sesudah proklamasi terlihat hampir pada semua gedung- gedung penting tertulis semboyan-semboyan revolusi antara lain terlihat di gedung Kantor Kabupaten jalan alun-alun kulon dengan semboyan: ”Freedom to the Glory of any nation” dan “Indonesia for the Indonesians”. Dari semboyan yang dituliskan oleh pemuda-pemuda kita itu menjadi pegangan untuk memberikan peringatan akan pentingnya persatuan bangsa dalam menegakkan pemerintahan dan pembangunan yang berkelanjutan.

Dalam keadaan yang demikian datang rombongan para wakil dari pemerintah pusat di Kota Malang untuk memberikan penjelasan sekitar situasi pada saat itu dan untuk penyusunan KNI (Komite Nasional Indonesia) Daerah. Kemudian terbentuklah KNI Daerah dengan susunan antara lain terdiri dari Mr. Soenarko, Poeger, Imam Soedjai dan lain-lain. Dalam rapat yang dilaksanakan pada tanggal 21 September 1945 terlihat sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa daerah Malang menjadi daerah Republik Indonesia dan berdiri di belakang pemerintah Republik Indonesia.

Dengan persetujuan Dr.Imam sebagai pemimpin rumah sakit militer Malang beserta Dr. Sumarno, dikirim regu-regu Palang Merah pemuda Tionghoa ke Surabaya dengan dua tugas yaitu member pertolongan pada korban perang dan menolong para pengungsi yang pada saat itu diungsikan ke Malang. Di samping itu pemuda Palang Merah membawa makanan yang diawetkan untuk dibagikan kepada pemuda-pemuda yang bertempur di garis depan. Pekerjaan regu-regu dari Malang tersebut mendapatkan penghargaan dari pimpinan Rumah Sakit Pusat Surabaya, karena membantu pasien yang di rawat di RSUP ke garis belakang yang lebih aman yaitu menuju Mojokerto, Pasuruan dan Malang (Tjhan, 1981 : 77).

Dalam pemerintahan kota dengan adanya pembentukan KNI maka di Malang mulai berjalan pemerintahan RI. Demikian juga di dalam daerah Karesidenan Malang berjalan pemerintahan RI. Agresi militer pertama di Jawa Timur terjadi pada tanggal 11 Juli 1947 di barat Surabaya terjadi pertempuran, Belanda menggunakan pelempar granat dan mortir pada pukul 07.40 sampai 09.30. pada hari berikutnya sebelah barat Mojokerto tembaki oleh Belanda pada pagi hari pukul 06.30. Di Ketapang terjadi pada tanggal 14 Juli pada pukul 10.05 terlihat mobil Belanda diiringi oleh pesawat terbang yang telah siap menembaki, sedangkan di Gilimanuk terjadi ada pukul 10.45.

Agresi Militer Belanda tersebut diawali dengan penerobosan terhadap pertahanan TNI di Porong oleh Brigade KNIL dari Divisi A yang berpangkal di Surabaya. Setelah berhasil menerobos pertahanan TNI di Porong, Brigade KNIL tersebut kemudian terus bergerak ke Malang, sedangkan sebagian lagi bergerak ke timur menuju Bangil hingga bertemu Brigade Marine. Pada tanggal 21 Juli 1947,

ketika tentara Belanda mengawali agresinya, di Markas Divisi VII Malang pada pukul 19:00 para perwira staf dan para komandan kesatuan dikumpulkan untuk mendengarkan perintah harian Panglima Divisi. Sunarto selaku komandan TGP (Tentara Genie Pelajar) hadir dalam pertemuan tersebut. Pada keesokan hari diketahui bahwa panglima ketika itu telah meninggalkan Kota Malang. Banyak pihak menyesalkan sikap panglima tersebut. Akhirnya pimpinan TGP memutuskan untuk berinisiatif mengambil alih tanggung jawab membumi hanguskan kota sesuai dengan rencana. Tindakan pertama yang ditempuh adalah meminta datang para petinggi kantor telepon, RRI, Perusahaan Listrik dan Stasiun Malang. Kepada mereka diminta kesediaan menerima pengawasan penghancuran instalasi mereka dan mulai mengungsikan alat perlengkapan vital ke Ngebruk, Sumber Pucung (Moehkardi, 1983 : 73).

Tanggal 28 Juli pasukan musuh bergerak lagi ke Singosari, dan dari sini melalui Karanglo hendak menuju ke sebelah barat kota Malang. Di mana-mana mereka menghadapi perlawanan sengit, sehingga waktu sore terpaksa kembali ke Lawang. Akan tetapi pada tanggal 30 Juli musuh mulai menyerang secara besar- besaran terhadap kota Malang. Tentara Belanda yang dari Lawang menduduki lapangan terbang Singosari dan dapat mencapai Blimbing, 5 kilometer sebelah utara kota Malang. Tentara yang lain bergerak dari jurusan Tretes, yang melalui lereng Gunung Arjuna mencapai distrik Batu dan Selecta di sebelah barat Malang. (Nasution, 1978 : 252).

Pada zaman pendudukan Prancis, polisi dipersiapkan menghadapi serangan-serangan dari pihak Inggris. Dalam hal ini tugas kepolisian diarahkan bagi kepentingan pertahanan dan bukan ditujukan bagi kepentingan pengamanan masyarakat. Dalam sebuah pertempuran, anggota Polisi Istimewa berhasil merampas tank tentara Inggris. Pada zaman Hindia Belanda polisi memerlukan perhatian khusus dengan meningkatnya kriminalitas. Kondisi ini mendesak pemerintah untuk melakukan reorganisasi di bidang kepolisian yang dilaksanakan pada tahun 1897 dan 1911. Reorganisasi berkaitan dengan penetapan formasi baru kepolisian Hindia Belanda antara lain pengangkatan Komisaris Besar sebagai Kepala Kepolisian di kota-kota seperti, Batavia, Semarang, Surabaya dan Malang. Pemerintahan Militer pada masa pendudukan

Jepang semua aktifitas diperuntukan untuk pemenangan perang. Khusus di bidang kepolisian kebijakan Pemerintahan Penjajahan Jepang mengarah pada penyelenggaraan keamanan dalam negeri, dengan menekankan pada kegiatan preventif yang dibebankan kepada Kenpetai dan Bagian Spesial yang oleh Jepang disebut Tokko Koto yang pada dasarnya adalah Dinas Rahasia Polisi Jepang yang mengemban fungsi intelijen. Urusan kriminal adalah masalah kedua akan tetapi masalah utama adalah perkara-perkara yang berlatar belakang politik (Kunarto, 1997 : 4).

Di Malang didirikan kursus untuk agen polisi yang bertempat di jalan Kelud, beberapa kader tersebut memperoleh pendidikan. Sebagian besar murid- murid terdiri atas mantan-mantan anggota badan perjuangan. Pasukan Mobile Brigade Karesidenan Malang di bawah pimpinan S.Samsuri Mertojoso, berusaha mempertahankan seluruh Karesidenan Malang. Karena mendapat tekanan yang kuat dari pihak Belanda, memindahkan Markas Komandonya, mula-mula ke Sumberpucung kemudian ke Kepanjen. Pertahanan yang menuju ke Kota Malang, yang mendapat tekanan hebat dari tentara Belanda, daerah sebelah timur jalan Surabaya- Malang pun diantaranya Bangil, Pasuruan, Probolinggo dan seluruh Karesidenan Besuki menjadi sasaran utama dari usaha perluasan daerah pendudukan Belanda. Pada tempat-tempat tersebut kesatuan-kesatuan polisi terlibat dalam pertempuran melawan Belanda yang mendarat dari laut di beberapa tempat (Memet, 1971 : 51-52).

Perjuangan Polri Tlogowaru 10 November 1947

Monumen Perjuangan Polri Tlogowaru terletak diperbatasan antara Desa Tlogowaru dan Desa Genengan. Keberadaan monumen yang berarti menandakan pernah terjadi suatu peristiwa sejarah. Monumen Perjuangan Polri Tlogowaru menceritakan peristiwa sejarah tentang penyerbuan terhadap anggota Mobile Brigade oleh pasukan Belanda. Pada sore hari tepatnya tanggal 9 November 1947, Polri mengirim lebih kurang 10 pasukan Mobile Brigade untuk menjaga keamanan Desa Tlogowaru dan sekitarnya. Monumen Perjuangan Polri Tlogowaru

Gambar 1 : Monumen Perjuangan Polri Tlogowaru
Saat malam peristiwa penyerangan itu terjadi bertepatan dengan terang

bulan atau bulan purnama sekitar jam 2 pagi sekitar 200 pasukan Belanda datang menyerbu tempat peristirahatan anggota Mobile Brigade. Mereka datang dari arah barat yang sebelumnya telah berhenti di daerah Kendal Payak yang merupakan Pos II untuk menjaga keamanan, tidak diketahui apa yang sedang terjadi di sana sebab jarak antara Tlogowaru dan Kendal Payak berjarak sekitar kurang lebih 3,5 km.

Menurut seorang saksi mata dan sekaligus korban yang bernama Warimin, melihat Belanda datang dari arah barat Tlogowaru dengan menembaki rumah penduduk. Setelah sampai di Desa Genengan pasukan Belanda mulai memisahkan diri membentang dan mengelilingi desa. Dalam penyerbuan tersebut, pasukan Belanda mengambil senjata (Bayonet) milik anggota Mobile Brigade yang sebelum tidur mereka sembunyikan terlebih dahulu. Senjata itu diketahui oleh seorang mata-mata yang bernama Wariman. Padahal persembunyian senjata itu jauh dari tempat anggota Mobile Brigade yang

istirahat dan ditutupi dengan batang pisang tidak memungkinkan pihak Belanda mengetahui kecuali mereka menyusupkan seorang mata-mata.

Penyerbuan Belanda yang begitu tiba-tiba, bahkan warga yang sedang melakukan patroli ditangkap. Kusno, Durrakim, Warimin, Ali Basor yang sedang patroli di wilayah barat (Tlogowaru), kemudian dari wilayah timur, Sawi, Taki, Dukhah, Tami, Poniran, dan sebagainya. Mereka semua yang ikut menjaga desa diikat dengan tali yang terbuat dari kayu kemudian berjajar dipinggiran parit, ditendang dan dipukul menggunakan bayonet. Setelah mereka mengikat dan menyiksa para penjaga desa bersamaan dengan itu anggota Mobile Brigade yang berada di dalam rumah Narijah, setelah mereka terbangun ditusuk menggunakan bayonet dan pisau, ada pula yang terlebih dahulu diseret keluar rumah kemudian ditusuk. Hampir semua korban yang tewas isi perut mereka terburai keluar. Ada tiga Brigade Mobile yang selamat dalam kejadian itu karena sempat melarikan diri kearah selatan dan menceburkan diri ke sungai, mereka bernama Suwaji, Darmaji, dan Diono. Sedangkan anggota lain ada yang tewas ditemukan terbakar diatas tumpukan sampah kedelai. Seorang anggota Mobile Brigade ada yang menyiasati tubuhnya dengan melumuri darah yang diambil dari tubuh temanya yang telah tewas dengan bersembunyi di bawah tempat tidur.

Kekejaman Belanda tidak hanya sampai disitu saja, jasad para anggota polisi tersebut disandingkan pada bukit sehingga dapat menyangga tubuh. Mereka yang telah gugur ialah: AP (Algemeene Politie/polisi umum) I Abdul Rachman, AP I Sukardi, AP II Soebadi, AP II Selo, AP II Ponidjan, AP II Amat, AP II Koesaeri, AP II Diman, AP I Abdil Madjid, AP II Imam, AP II Satelim, Alim ( Sipil), Narijah (penduduk), dan Durrakim (penduduk). Dalam Monumen Perjuangan Polri Tlogowaru yang tercatat hanya para anggota Mobile Brigade saja sedangkan penduduk yang tewas tidak ikut tercatat karena, monumen tersebut dikhususkan untuk para anggota Polri.

Setelah para pahlawan gugur dimedan perang, para pasukan Belanda pergi dengan menembaki rumah-rumah penduduk menggunakan senjata milik anggota Brimob yang telah gugur. Mereka kembali ke arah barat menuju daerah Kendal Payak bersama tawanan yang terdiri dari 4 anggota Mobile Brigade dan penduduk desa yang lain. Desa Kendal Payak merupakan pos II keamanan

sebagai tempat peralatan perang dan transportasi, seperti truk yang digunakan untuk mengangkut para tawanan perang yang kemudian di bawa ke pusat kota dan diinterogasi. Sebagian tawanan ada yang dilepaskan, akan tetapi tidak diketahui apa yang menjadi sebab sehingga mereka dilepas.

Suasana desa Tlogowaru dan Genengan setelah pertempuran itu selesai penduduk setempat yang semula bersembunyi, semua keluar dan datang ke tempat kejadian untuk melihat dan menolong korban yang masih selamat.Saat itu banyak penduduk yang menyaksikan jasad-jasad para pahlawan gugur dengan cara yang tidak wajar dan berbagai gaya tubuh yang berbeda-beda, darah berceceran dimana-mana, dan banyak rumah-rumah terbakar. Peristiwa itu menorehkan luka yang mendalam pada keluarga, teman, bahkan bangsa Indonesia. Jasad-jasad para anggota Mobile Brigade tersebut dibawa ke tempat asal mereka tinggal karena, mereka semua tidak hanya berasal dari Malang saja melainkan luar Kota Malang tetapi masih dalam satu Provinsi Jawa Timur.

Sejarah lokal apabila diartikan merupakan sebagian sejarah daerah tertentu, maka sejarah tersebut telah lama berkembang di Indonesia. bahkan sejarah yang dimiliki sekarang bermula dari tradisi sejarah lokal seperti itu. Hal ini dapat dihubungkan dengan berbagai sejarah daerah dengan nama-nama tradisional seperti babad, tambo, riwayat, hikayat dan sebagainya yang dengan cara-cara yang khas menguraikan asal-usul suatu daerah tertentu (Ong Hok Ham 1981 :3).
Kontribusi Penelitian Terhadap Pendidikan Sejarah

Pembelajaran sejarah lokal di setiap sekolah memiliki proporsi yang berbeda, tetapi esensinya sama. Mengenalkan anak didik dengan sejarah yang ada di sekitarnya. Menurut salah satu guru sejarah yang kami wawancarai tentang proporsi pembelajaran sejarah lokal di sekolahnya, bisa dikatakan dalam tiga pertemuan, beliau menggunakan satu pertemuan untuk menyisipkan sejarah lokal dalam pelajarannya. Walaupun memang, pembelajaran sejarah lokal lebih mengasyikan bila metode pembelajarannya tepat. Tidak seperti sejarah nasional yang hanya dengan diskusi dan ceramah saja sudah cukup sebagai metode yang digunakan guru. Berdasarkan narasumber tesebut jika, proporsi sejarah lokal

dengan sejarah nasional dapat dikatakan 70 berbanding 30. Maksudnya, 70% adalah materi sejarah nasional, sedangkan 30% adalah materi sejarah lokal. Hal ini dilakukan agar, siswa dapat memahami dan mengerti akan kekayaan sejarah lokal yang ada di daerahnya tanpa melupakan sejarah nasional sebagai pijakan akan materi pembahasan dalam kurikulum

Belajar sejarah pada dasanya adalah belajar tentang kehidupan masyarakat. Berbagai aspek kehidupan dapat dipelajari dalam sejarah. Pembelajaran sejarah di sekolah sebaiknya lebih mudah dipahami siswa. Dalam pembelajaran sejarah hendaknya siswa dapat melihat langsung kehidupan yang nyata. Sejarah lokal dalam konteks pembelajaran di sekolah tidak hanya sebatas sejarah yang dibatasi oleh lingkup ruang yang bersifat administratif saja, melainkan juga sejarah provinsi, sejarah kabupaten, sejarah kecamatan, dan sejarah desa. Bertolak dari sejarah lokal inilah siswa dapat menyadari akan kekayaan tema kehidupan yang terjadi dalam lingkungan masyarakat sekitarnya, sehingga siswa akan lebih bisa memahami dan memaknai peristiwa sejarah. Dengan melatarbelakangi hal tersebut, maka diangkat penelitian yang berjudul Kota Malang Pasca Kemerdekaan (Kajian Sejarah Lokal Perjuangan Polri).

Sejarah Kota Malang pasca kemerdekaan pada tahun 1945 sampai 1947 yang merupakan kajian sejarah lokal perjuangan Polri ini, dalam pendidikan sejarah di Sekolah Menengah Atas yang menjadi bagian dari sub bab yang diajarkan yaitu materi tentang Revolusi Indonesia. Sejarah Kota Malang sebenanya dapat dijadikan muatan lokal tersendiri khusus siswa-siswa Kota Malang, karena menjadi persoalan yang tidak seimbang ketika sejarah kota-kota lain dimasukkan dalam kurikulum sekolah sedangkan keberadaan sejarah kota sendiri tidak pernah diajarkan. Dengan adanya penelitian ini, maka dapat membantu para guru serta siswa untuk mendapatkan referensi yang jelas tentang kota yang sejarah Kota malang melalui kajian perjuangan Polri.
KESIMPULAN DAN SARAN

Pada masa-masa perjuangan Indonesia pada tahun 1945-1949 di Kota Malang telah banyak mengerahkan angkatan bersenjata seperti dari Kepolisian Republik Indonesia yang di kendalikan oleh Mobile Brigade Besar atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan Brimob (Brigade Mobile). Pengendalian Mobile

Brigade Besar sebagai angkatan bersenjata bentukan kepolisian ditunjukkan melalui perjuangan mereka mempertahankan dan merebut kembali Kota Malang dari Sekutu. Lain halnya dengan kepolisian masa sekarang yang bertindak atau berperilaku tidak semestinya diluar tugas utama polisi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Atas dasar permasalahan tersebut menjadi latar belakang penelitian ini yang mengingatkan kembali masa-masa perjuangan Kepolisian Republik Indonesia khususnya di Kota Malang. Pada penelitian sejarah Kota Malang ini yang menjadi berbeda dengan penelitian lain adalah mengangkat kajian histori tentang perjuangan Polri di Kota Malang pada tahun 1945 sampai 1947. Penelitian lain yang juga dapat diangkat adalah Sejarah Perkembangan Polri di Kota Malang pada Tahun 1949 karena pada masa itu Polri banyak mengalami perubahan karena bersamaan dengan terjadinya perubahan struktur organisasi Polri serta Agresi Militer Belanda II.

DAFTAR RUJUKAN

Kunarto. 1997. Perilaku Organisasi Polri. Jakarta : Cipta Manunggal.

Tim Penulis. 1954. 40 Tahun Kota Malang. Malang : V. Nimef

Suparlan, Parsudi. Bunga Rampai Ilmu Kepolisian Indonesia. Jakarta : Yayasan Pengembangan Kajian Ilmu Kepolisian.

Tjhan, Siauw Giok. 1981. Lima Zaman Perwujudan Integrasi Wajar. Jakarta- Amsterdam : Yayasan Teratai.

Tanumidjaja, Memet. 1971. Sedjarah Perkembangan Angkatan Kepolisian.Jakarta: Departemen Pertahanan-Keamanan Pusat Sedjarah ABRI.

Moehkardi, 1983. TGP (Tentara Genie Pelajar) 1945-1950. Surabaya : UD Sapta Putra Offset.

Nasution, A.H. 1978. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Periode Agresi Militer Kolonial Belanda I jilid 5. Bandung: Disjarah AD dan Angkasa Bandung.