Pencarian korban KMP Rafelia 2 yang karam di Selat Bali resmi dihentikan

Screen Shot 2016-03-06 at 7.20.43 PM

Pencarian korban KMP Rafelia 2 yang karam di Selat Bali resmi dihentikan pukul 15.30 WIB, Minggu (6/3/2016). Pengumuman penghentian itu diungkap oleh Kepala Ops Basarnas, Brigjen Marinir Ivan Ahmad, kepada awak media usai rapat koordinasi di ASDP Ketapang.

“Penyelam Basarnas, TNI, Polri dan penyelam alam sudah menyelami anjungan, dek, buritan sampai haluan tapi tidak menemukan penumpang yang tersisa. Kapal dalam kondisi kosong,” tegasnya.

Berdasarkan data manifes penumpang,  terdapat 81 orang yang berada di kapal yang kini karam di Perairan Banyuwangi Beach Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro. Sebanyak 76 orang dinyatakan selamat. Sedangkan 5 lainnya ditemukan dalam kondisi tewas.

“Setelah ditutup kita buka Operasi Pantau SAR yang bertugas selama satu minggu. Satu tim SAR akan tinggal di sini, yakni tim SAR Jember yang berada di bawah kendali Kantor SAR Surabaya. Apabila ada korban lagi yang ditemukan akan ditangani petugas Operasi Pantau,” tambahnya.

Berdasarkan data Kepolisian Resort Banyuwangi, ternyata masih ada satu orang yang belum ditemukan. Satu nama itu adalah nahkoda KMP Rafelia 2, Bambang S Adi. Menurut Ketua Tim DVI, Kompol dr Bambang Widiatmoko, mayat yang ditemukan tim SAR pukul 11.50 WIB itu bukan  sang nahkoda.

“Jasad terakhir identik dengan korban atas nama I Gusti Made Suwena (57), asal Bali. Kecocokan terletak pada jenis kelamin laki-laki, serta data primer gigi palsu,” terangnya didampingi Kapolres Banyuwangi AKBP Bastoni Purnama dan Kasatpolair AKP Basori Alwi, di depan Kantor ASDP Ketapang, usai penutupan rapat koordinasi.

Keterangan DVI ini mematahkan keterangan di luar korps kepolisian yang menyatakan bahwa korban kelima yang ditemukan adalah nahkoda kapal. Menurut Kapolres Banyuwangi AKBP Bastoni Purnama, banyak kemungkinan terhadap keberadaan Bambang S Adi. Tapi untuk memastikannya aparat telah mengecek di beberapa lokasi termasuk rumah sakit yang bersangkutan tidak ada.

“Sejauh ini posisi nahkoda masih belum ketemu. Bisa jadi dia hanyut karena terbawa arus. Berdasarkan pemeriksaan saksi dari kalangan anak buah kapal, sang nahkoda ikut bertugas dan berada di anjungan,” katanya lagi.

Basarnas memang sudah menutup proses pencarian. Tapi polisi dan KNKT terus melakukan kerja untuk menyelidiki kasus ini. Ditambahkan Kapolres, Satreskrim Polres Banyuwangi telah melayangkan panggilan pemeriksaan terhadap syahbandar dan ASDP.

“Hari ini (Minggu) surat panggilan sudah dilayangkan. Rencana besok mereka akan diperiksa di Mapolres Banyuwangi,” sambung AKBP Bastoni Purnama.